Filosofi Kata ‘Rameunee’ Nagan Raya

0
40

Sebuah kisah tentang ‘Rameunee’ di Nagan Raya yang sempat salah kupahami sejak berpuluh tahun lalu. Lalu ku rangkai tulisan ini sebagai penebusan ‘dosa’ terhadap kekeliruan itu. Nagan Raya adalah salah satru Kabupaten yang teletak di wilayah pantai barat Provinsi Aceh.

Menjalani masa-masa kuliah di Banda Aceh di era 1990-an, Rameunee kupahami berkonotasi negatif. Suatu hari kudengar cerita seorang kawan tentang kawannya asal Nagan Raya sangat ‘Meurameunee’ akalnya. Itu hampir sama dengan banyak tingkah, bulus mendekati licik.

Kawan asal Nagan itu misalnya, selalu berdalih jika tiba jatah memasak di tempat kostnya. “Lagi kurang sehat, mendadak harus ke kampus dan ada saja alasannya,” kisah kawanku. Artinya, dia selalu mengelak kewajiban yang telah disepakati sebelumnya.

Lalu, kami selalu memakai kata itu ketika berjumpa dengan mereka yang bertingkah-laku seperti itu. “Seperti ‘Rameunee’ akalnya, parah kali,” kataku misalnya ketika berjumpa kawan yang pelit membagi jawaban soal ujian final.

Bertahun-tahun, aku memahamin ‘Rameunee’ negatif sampai Jumat kemarin, 29 Juni 2018, menghadiri peresmian Rumah Pintar Pemilu di Nagan Raya. Sebuah wadah untuk memberikan pendidikan politik dan sosialisasi kepada pemilih terkait kepemiluan.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Nagan_Raya

Rumah Pintar Pemilu itu diberi nama ‘Rameunee’. Jelas aku keherananan sampai kemudian mendapatkan penjelasan dari para pejabat di Nagan Raya tentang kata itu.

‘Rameunee’, kata Ketua KIP Nagan Raya, Muhammad Yasin adalah kearifan lokal di kalangan masyarakat Nagan Raya yang menjaga budayanya sampai kini. Misalnya, dalam menggelar mewah pesta-pesta perkawinan dan pesta lainnya. ‘Rameunee’ juga disebut sebagai keterbukaan masyarakat Nagan Raya dalam menerima setiap tamu yang datang.

Tapi Sekretaris KIP Aceh, Darmasyah yang juga putra Nagan Raya, memahami ‘Rameunee’ punya penjelasan lain lagi. “Itu semacam pola pikir atau kecerdasan warga wilayah itu dalam pergaulan sehari-hari, baik di tempatnya maupun di perantauan. Semangat ‘Rameunee’ juga mampu membuat mereka bertahan dalam kondisi apapun menjalani kehidupan sosial kemasyarakatan. Semangat ‘Rameunee’ mampu mempersatukan warga Nagan di perantauan.

[Foto sendiri]

Kucoba telusuri sebuah laman di internet. Ada cerita tentang ‘Rameunee’ berdasarkan penjelasan dari tokoh adat di sana,. H Teuku Cut Adek. Katanya, istilah itu kisah dahulu kala yang diambil dari perilaku orang kaya bernama Said Attah. Dia selalu memuliakan tamu yang berkunjung ke rumahnya dengan makanan istimewa. Itu bentuk berbagi dan syukur atas rezeki yang didapatnya.

Said Attah sering berucap ‘Rahmani’ yang berarti rahmat. Seiring waktu, ‘Rahmani’ diucapkan sebagai ‘Rahmeune’ dan kemudian menjadi ‘Rameunee’. Begitulah, aku juga tak bisa membuktikan kebenaran kisah Said Attah itu. [sumber]

Kini, aku tahu bahwa ‘Rameunee’ punya filosofi beda. Tak bermakna negatif seperti pemikiranku. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here