Disangka Intel di Markas GAM: Meliput Konflik #5

0
51

Kisah ini aku tahu belakangan setelah konflik Aceh berakhir, disangka sebagai intelijen oleh anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat masuk ke markas mereka di perbukitan Cot Lame, Aceh Besar. Begini kisahnya.

Di antara sekian banyak narasumber ku saat konflik, Juru Bicara GAM Wilayah Aceh Rayeuk, Irwansyah alias Tgk Muchsalmina paling sering aku hubungi melalui telepon. Saban kontak senjata antara GAM dan TNI/Polri di wilayah Aceh Besar, keterangannya selalu kuminta. Juga tanggapannya soal perang dan persoalan di kalangan kombatan.

Saban menghubunginya, selalu kuutarakan untuk masuk ke markasnya. Tapi selalu dilarang dengan alasan keamanan. Sampai tsunami Aceh datang pada 26 Desember 2004, perang seperti rehat sejenak. Semua GAM dan TNI/Polri menahan diri, ikut berduka karena banyaknya saudara, rekan mereka yang menjadi korban.

Ini kesempatan bagiku untuk menawarkan diri kembali masuk ke markasnya dan disetujui. Setelah memilih waktu tepat, Jumat pagi 14 Januari 2005, aku ke sana sendiri melewati beberapa pos TNI sepanjang jalan untuk sampai ke kampung terakhir yang berbatas gunung, Cot Lame. Kubawa serta sedikit oleh-oleh, kumasukkan ke ransel.

Tgk Muchsalmina (kanan) setelah turun gunung | Photos: Dok Pribadi

Sampai di ujung jalan Cot Lame, aku berhenti di sebuah kios yang berhadapan dengan balai seperti mushala. Di sana pada sebuah baliho tertulis, “Posko Pengungsi Tsunami”. Ku hubungi sebuah nomor yang diberikan Tgk Muchsalmina, sebagai penghubung.

Ternyata Si Penghubung telah menunggu di sana. Dia mengiterogasi dengan sejumlah pertanyaan dalam bahasa Aceh, Dari mana? Ada keperluan apa? Dan lainnya. Beberapa warga di kios itu melihat curiga kepadaku. Penampilanku memang sedang kusut dengan rambut panjang dan berewokan. Baju sengaja kupakai yang bercirikan jurnalis.

Sesaat kemudian, Si Penghubung menjauh sambil berkata akan berbicara dengan Tgk Muchsalmina lewat telepon. Akhirnya aku diizinkan masuk. Isi pembicaraan mereka saya ketahui belakangan.

Aku dan Si Penghubung kemudian berangkat dengan sepeda motor ku sekitar satu kilometer ke arah perbukitan sampai batas jalan yang sudah dipagari dengan ranting-ranting pohon. Tak ada lagi rumah warga di sekitar, hanya kebun, sawah dan bukit-bukit setengah tandus. Motor kusimpan di kebun warga, agak tersembunyi.

Sesaat menunggu, dua GAM kulihat turun menenteng senjata M-16. Tanpa banyak basa-basi, aku dibawa berjalan kaki menyusuri kebun, sawah dan perbukitan. Sampailah kami di tempat yang dituju, ada sebuah pondok kecil di sana. Aku berjumpa dengan Tgk Muchsalmina untuk wawancara, anggotanya berjaga-jaga.

Pertemuan dan wawancara lancar disertai canda, tanpa kendala. Permintaanku untuk menginap bersama mereka ditolak. Sore harinya aku turun bersama Si Penghubung. Diantar sampai ke batas desa, lalu kembali ke rumah dengan selamat.

Senjata bekas konflik di Museum Perdamaian, KesbangLinmas Aceh

Usai damai Aceh disepakati, 15 Agustus 2005, aku kerap bertemu Muchsalmina. Suatu hari, tak lama setelah dia turun gunung, Muchsalmina bercerita kembali tentang percakapannya dengan Si Penghubung saat akan menemuinya.

Si Penghubung ternyata ragu kalai aku adalah jurnalis karena dinilainya lebih mirip intelijen pemerintah. “Dulu abang disebut mirip intel oleh penghubung saya, karena mungkin gondrong,” kisahnya kembali. Maklum, sebelumnya kami tak pernah bertemu muka.

Lalu Muchsalmina menyakinkan Si Penghubung untuk dengan kata yang membuatku merinding. “Menye betoi intel, tapluek kulet ulee sinoe (kalau benar intel, kita kuliti kepalanya di sini),” katanya membuka rahasia.

“Tapi ternyata tidak,” sambungnya. Untung saja aku sangat menyakinkan sebagai jurnalis ketika bertemu. Kini, Muchsalmina dengan nama asli Irwansyah duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Partai Nanggroe Aceh (PNA). []

 

Muchsalmina (kiri), salah satu pendiri Partai Nasional Aceh (PNA), 24 April 2012.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here