Demi Anak-anak yang Diserang Rubella

0
166

Memimpin sebuah diskusi hal biasa bagi ku, santai dan tak pernah merasa tegang siapapun narasumber maupun pesertanya. Tapi Rabu sore 29 Agustus 2018 lalu, aku tak bisa melempar humor, kaku dan berkeringat di dalam ruangan berpendingin AC.

Umumnya peserta dalam acara yang difasilitasi PKBI dan Unicef itu kaum ibu, muda dan semuanya cantik. Tapi bukan karena itu aku dibuat tak berkutik. Aku dihadapkan pada lima ibu yang membawa masing-masing satu anaknya yang menderita, setelah diserang virus Rubella, bahkan sebelum mereka lahir.

Demi anak-anak itu, aku menulis ini sebagai kampanye pentingnya imunisasi vaksin Measles (Campak) dan Rubella (MR) yang sedang dijalankan pemerintah, termasuk di Aceh pada Agustus dan September 2018. Rubella adalah penyakit sejenis campak yang berbahaya. Jika menyerang ibu hamil, maka bayi yang dilahirkan akan menderita buta, tuli dan kebocoran jantung. Lihat tulisan sebelumnya: Memutus Laju Virus, Campak dan Rubella.

Setelah dibuka, diskusi aku pimpin selama dua jam. Pertama kesempatan kuberikan kepada lima ibu yang menderita virus Rubella saat hamil. Pertama, Ibu Ainul Mardhiah berbicara dengan menggendong anaknya Aisyah (4 tahun).

Aisyah tak dapat melihat, telinga tak bisa mendengar dan jantungnya yang bocor perlahan telah sembuh setelah mendapatkan pengobatan. Ainul bercerita sambil menangis, dari kehamilannya sampai anaknya lahir, dan tentang penyakit yang tak diketahuinnya itu.

Begitu lahir, anaknya sering sakit-sakitan. Setelah satu tahun, Ainul yang tak berdaya karena kemiskinannya mencoba membawa anaknya ke puskesas terus diperiksa. Anaknya divonis terjangkit Rubella sejak dalam kandungan. “Sejak itu saya baru tahu Rubella, dan mudah-mudahan anak-anak lainnya tidak seperti anak saya,” katanya terisak.

Kesempatan kedua, Ibu Rita Yana berkisah tentang anaknya Safa (4 tahun) yang juga bernasib sama. Rita tahu lebih cepat tentang Rubella, setalah anaknya berumur dua minggu. Matanya rusak dan tuli. Jantungnya juga bocor, tapi belakangan berangsur tertutup setelah menjalani pengobatan.

Safa memakai alat pendengar dan matanya telah dioperasi berkali-kali, namun tak kunjung normal seperti anak umumnya. Ibu Rita mengakui tak tahu Rubella, saat penyakit seperti campak itu menyerangnya saat usia kandungan dua bulan.

Setelahnya, Ibu Siti berkisah tentang anaknya yang bernasib serupa. Lalu Ibu Husna dengan anaknya Husnul dan terakhir Ibu Nursiah yang berkisah tentang Syakila-nya yang sampai kini masih bolak-balik dari Lhokseumawe (tempat tinggalnya) ke Banda Aceh untuk berobat.

Kelima anak tak berdaya itu korban virus Rubella, yang ditularkan ibunya semasa hamil. Semuanya dengan mata dan telinga rusak juga jantung bocor pada awalnya. Sebagian mengakui, jantung anaknya telah divonis sembuh setelah berobat. Tapi belum untuk mata dan telinga.

“Campak sejauh ini belum ada obatnya, kalau bayi lahir seperti itu tidak ada obat, yang ada merehabilitasi,” kata dr Eka Yunita Amna, pemateri dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Menurutnya satu-satunya cara memutus mata rantai virus tersebut adalah dengan imunisasi MR. Agar virus itu tak muncul lagi ke depan.

Sementara, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada Dinas Kesehatan Aceh, dr Abdul Fatah menyebutkan Rubella cenderung tak terlihat kasat mata menyerang penderita. Dia tampak seperti campak biasa dengan ruam-ruam di kulit secara klinis. Dan sangat berbahaya jika menyerang ibu sedang hamil.

Hanya imunisasi MR cara mengusir virus itu. Dan di Aceh, imunisasi sempat mandek sejak dicanangkan pada awal Agustus lalu, karena banyaknya protes dari masyarakat sehubungan dengan belum keluarnya fatwa ulama terhadap vaksinnya yang belum jelas halal. Karenanya Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengeluarkan intruksi penundaan pada 7 Agustus 2018.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian keluar pada 20 Agustus 2018. Kata dr Fatah, MUI menyatakan vaksin campak dan Rubella (MR) dapat digunakan untuk saat ini dengan hukum diperbolehkan alias Mubah. “Nanti tanggal 5 September kemungkinan kami akan duduk kembali dengan Plt Gubernur untuk intruksi melanjutkan imunisasi, karena sudah ada fatwa MUI,” katanya. Imunisasi akan terus dijalankan sesudahnya, dengan target 1,6 juta anak Aceh usia 9 bulan sampai 14 tahun.

Poin Fatwa MUI terkait Vaksin Rubella

Diskusi hari itu berakhir usai asar, aku sempat mengobrol dengan beberapa ibu dan anak yang pernah terjangkit Rubella. Aku tak bisa mengungkapkan lebih jauh perasaan saat bicara dengan mereka, sedih, duka, haru dan hanya doa, semoga mereka diberikan kesembuhan dan tak ada lagi Rubella itu. []

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here