Cut Aisyah, Merintis Teknik Kimia Unsyiah #2

0
28

Cut Aisyah dinilai keras dalam mendidik, mungkin dipengaruhi logatnya karena lama menetap di Sumatera Utara. Dia pernah didemo mahasiswa di kampus bahkan ke rumahnya pada awal bertugas, 1981. “Demolah, mati pun tak apa-apa ibu,” katanya kepada para mahasiswa kala itu. Beberapa nama masih diingatnya, Sahidin (sekarang dosen) dan Widodo (bekerja di Qatar).

Karena didemo terus-terusan, saat rapat para dosen, Cut Aisyah mengatakan kepada Pak Imran dekan saat itu, niatnya kembali ke Medan. “Jangan lah bu, mati saya kalau kek gitu,” kisah Cut Aisyah. Selanjutnya Imran turun tangan memadamkan aksi mahasiswa. Selasai satu perkara.

[Lahir pada 2 September 1963, Fakultas Teknik menjadi fakultas keempat yang berdiri di Universitas Syiah Kuala. Awalnya hanya satu jurusan, Teknik Sipil. Fakultas kemudian mengembangkan diri, membuka Jurusan Teknik Mesin dan Teknik Kimia pada tahun 1977. Tuntutan zaman, setelah ditemukan ladang gas Arun, Lhokseumawe]

Baca: Cut Aisyah, Kisah Merintis Teknik Kimia Unsyiah #1

Di kalangan mahasiswa Teknik sebelum beliau pensiun tahun 2012, Cut Aisyah dikenal luas. Kerap ke kampus dengan mengendarai mobil VW Kodok kesayangannya. Selalu hampir seharian berada di kampus, kalau tak mengajar berarti di Laboratorium.

Saat gedung teknik dibangun baru tahun 1996, Ibu Cut ikut andil dalam merancang sendiri ruangan laboratorium yang layak untuk bahan-bahan kimia yang semakin banyak. “Misalnya harus ada AC, alat-alat kimia memakan tempat yang luas. Ada yang berbahaya lagi,” katanya.

Rekan-rekanku, tahun 2000

Karena itupula, ruangan laboratorium di jurusan Teknik Kimia lebih besar dibandingkan Teknik Mesin dan Teknik Sipil. Gedung baru resmi dipakai tahun 1998. Aku sempat merasakan kuliah di gedung lama dan gedung baru.

Bagiku, Cut Aisyah seperti orangtua sendiri. Diangkat menjadi asistennya saat semester akhir untuk mengurus praktikum adik-adik angkatan, sampai membantu beliau mengajar dan berbagai penelitian. Keuntungan tersendiri, gratis makan selama praktik dan sedikit uang honor.

Kedekatan itu pula membuatkan mudah saja memperbaiki beberapa mata kuliah yang diasuhnya, mengubah nilai C menjadi A, mendongkrak IPK.

Mengurus laboratorium sambil mengajar terus dilakukan Cut Aisyah bertahun-tahun sampai Teknik berkembang pesat, dengan banyaknya tenaga pengajar. Dia pensiun pada 2012 dan perannya tercatat hingga kini untuk kemajuan di kampus Teknik. []

Note: Bagian naskah buku 55 Tahun Fakultas Teknik Unsyiah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here