Bunglon, Hadiah Kedua dari “Presiden”

0
132

Deklarasi kampanye damai Pemilu 2019 di Banda Aceh, istimewa bagiku. Usai liputan saat menulis laporan di panggung utama Lapangan Blang Padang, dikunjungi ‘presiden’. Lalu dia menemaniku menulis, tak lupa menghadiahkan sebuah puisi setelah setengah kupaksa.

Dia bukan presiden sebenarnya yang memimpin negara. Hanya hanya seorang penyair tua, yang mendapat gelar ‘Presiden Rex’ merujuk sebuah tempat yang menjadi tempat mangkalnya dulu. Rex adalah pusat kuliner terletak di Peunayong, Banda Aceh.

Namanya presiden-ku jtu Hasbi Burman, penulis dan pembaca puisi otodidak yang tak gampang ditemui. Kadang muncul kadang menghilang, sesukanya. Dan puisi hadiah kepadaku adalah yang kedua, setelah tiga bulan lalu, dia melakukan hal yang sama. Baca: Hadiah Puisi dari “Presiden”.

Kuminta Hasbi membacakan puisi yang berkenaan dengan Pemilu 2019. Awalnya dia menolak, karena harus berpikir untuk sebuah karya yang indah. “Besok aku kirim lewat SMS ke nomor mu,” katanya. Dia bicara layaknya kawan sebaya denganku, padahal sudah berusia 70 tahun atau seumuran ayahku. Kepadanya, aku memanggil bang. Begitulah.

“Penyair itu serba bisa, ada yang spontan melahirkan karya dan ada yang lama harus lewat perenungan. Dan bang Hasbi bisa dengan spontan,” kataku mencoba.

“Sejenak,” katanya.

“Tentang apa,” dia bertanya kembali. “Tentang Pemilu lah, ini baru saja deklarasi kampanye,” aku memberi petunjuk.

Sejenak kemudian Sekretaris KIP Aceh, Darmansyah mendekat ke arah kami. Dia memberi semangat kepada ‘presiden’ yang mengisap rokok dalam-dalam. “Presiden Rex pasti mampu,” seru Darmansyah.

Kawan ku, Yudi yang belum mengenal sosok Hasbi Burman menunggu, puisi seperti apa yang bakal diucapkan Hasbi. Dia masih belum yakin, penyair itu bakal mampu melafalkan puisinya secepat itu.

Aku dan Yudi bersama ‘Presiden Rex’

Tiba-tiba, Hasbi berseru dari atas kursi tempatnya duduk. “Ayo kau tulis,” katanya kepadaku yang duduk di lantai bersama Yudi. Tak lama kemudian, dia membacakan puisi sebagai hadiah dan kucatat pelan-pelan.

=== BUNGLON ===

Angin adalah api
Untuk dicicipi
Bagimu bangsa ku

Itulah luka buah termanis
Dalam Pemilu dan Pilkada

Karena kita sedang menyimak
Jinaknya bunglon berlari

Menjadi kayu kita susah
Menjadi bunglon paling mudah
Wahai generasi ku yang patah sayap
Dalam mencari obat

Blang Padang, Banda Aceh, 23 September 2018
Hasbi Burman

Balon terbawa angin | Foto: Yudi

Setelah membacanya, Hasbi bertanya. “Bagaimana, bagus.” Aku hanya mengangkat jempol ke arahnya. Lalu kami foto bersama. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here