Berebut Simpati Bekas Kombatan

0
58

By: Adi Warsidi

Puluhan ribu massa berseru, ‘Hidup Partai Aceh’, ketika Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf naik panggung. Stadion Lampineung Banda Aceh bergemuruh dan tak mampu menampung massa yang hadir. Sesekali mereka bersorak mengulang teriakan, ketika calon kandidat gubernur/wakil gubernur Aceh itu memaparkan program-programnya.

Hari itu, Ahad 12 Februari 2012, sekitar lima puluh ribu massa berdatangan ke ibukota provinsi dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Partai Aceh punya hajatan, deklarasi calon gubernur dan 14 kandidat partai yang maju untuk pemilihan kepala daerah di kabupaten/kota. Banda Aceh pun merah dengan atribut partai yang berkibar di sana-sini.

Massa yang hadir adalah para pendukung partai yang berbaur bersama mantan kombatan. Di bawah koordinasi wilayah masing-masing. “Kami diundang untuk datang ke Banda Aceh, lalu kami datang untuk memeriahkan acara,” kata Julius, simpatisan Partai Aceh dari wilayah Aceh Timur.

Dalam kegiatan yang dirangkai bersama maulid Nabi Muhammad SAW itu, Muzakkir Manaf yang bekas Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyerukan kepada seluruh rakyat Aceh untuk tetap berkomitmen menjaga perdamaian di tanah rencong itu. “Partai lokal di Indonesia hanya ada di Aceh. Itu harus kita manfaatkan dengan baik.”

Beberapa mantan jenderal juga tampak pada deklarasi calon dari Partai Aceh. Mereka duduk di kursi kehormatan, di antaranya adalah mantan Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen (Purn) Soenarko dan Mayjen (Purn) Djali Yusuf.

Empat hari setelah deklarasi digelar, calon kandidat gubernur Aceh yang lain, Irwandi Yusuf yang berpasangan dengan Muhyan Yunan mengumpulkan para bekas panglima GAM di Hermes Hotel. Mereka menggalang dukungan untuk pasangan tersebut. “Kami juga akan menjaga pelaksanaan Pilkada Aceh 9 April 2012 berlangsung damai dan tertib. Kami akan melawan segala bentuk intimidasi,” ujar Sofyan Dawod, mantan Juru Bicara GAM yang kini duduk sebagai Ketua Pemenangan untuk Irwandi – Muhyan.

Sofyan mengklaim, ada belasan bekas Panglimam Wilayah GAM yang mendukung mereka. Katanya, banyak mantan kombatan yang melawan kebijakan Partai Aceh yang mencalonkan Zaini Abdullah – Muzakkir Manaf sebagai calon gubernur Aceh mendatang. “Karena itu kami dipecat (dari Partai Aceh), karena tidak mendukung mereka,” ujarnya. Bahkan mereka berencana untuk mendirikan partai baru.

Sebelumnya beberapa Panglima Komite Peralihan Aceh (KPA – Organisasi bekas kombatan) dipecat dari jabatannya dan dari pengurus Partai Aceh. KPA terbentuk setelah Tentara Neugara Aceh (TNA) dibubarkan pada September 2005 silam, pasca-penandatanganan MoU Helsinki.

Penggalangan dukungan untuk Irwandi juga berlangsung di Kabupaten Pidie, 22 Februari silam. Yang dibidik juga mantan kombatan dan para ulama. Acara konsolidasi turut menghadirkan GAM angkatan 76, seperti Tgk Hanafiah Pasi Lhok. “Kami berharap Irwandi dapat meneruskan perjuangan, untuk rakyat Aceh,” ujarnya.

***
Dua kubu calon kandidat gubernur, Zaini Abdullah – Muzakkir Manaf dan Irwandi Yusuf – Muhyan Yunan sedang gencar mencari dukungan di Aceh. Fokus adalah merangkul mantan kombatan yang diyakini dekat dengan rakyat.

Dukungan kombatan pecah pada dua calon itu. Ini juga diakui oleh Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA), Tgk Mukhlis Abee. Menurutnya hanya sedikit perpecahan mantan kombatan dalam persoalan mendukung calon gubernur Aceh ke depan. “Iya hanya sebagian kecil, kami masih terus melakukan pembenahan soal itu,” ujarnya kepada Tempo.

Hal sama diakui oleh petinggi Partai Aceh, Zakaria Saman. “Hanya sebagian kecil yang pecah. Kamu kan lihat berapa ramai kombatan yang mendukung partai saat deklarasi calon dari Partai Aceh,” ujarnya. Soal perbedaan dukungan tersebut, Zakaria melihatnya sebagai sebuah bentuk demokrasi yang terjadi di Negara manapun di dunia.

Di kubu Irwandi – Muhyan, mantan Juru Bicara KPA Tgk Muchsalmina menilainya secagai bentuk demokrasi. “Sebenarnya yang terjadi bukan perpecahan. Tapi lebih kepada proses pembelajaran demokrasi kepada mantan kombatan. Ini juga akan berakhir setelah pilkada, seperti 2005 lalu,” ujarnya.

Zaini Abdullah, calon gubernur dari Partai Aceh kepada Tempo mengatakan keyakinannya untuk menang. Dukungan sebagian besar mantan kombatan dan rakyat adalah ke partainya. Dia juga banyak mengkritik kepemimpinan Irwandi Yusuf yang selama ini belum bisa menyejahterakan masyarakat Aceh. “(mantan) GAM kompak, kami kalau panggil mereka selalu datang,” ujarnya.

Dia menilai perpecahan adalah hal wajar dalam sebuah organisasi. Tidak ada perpecahan yang signifikan di tubuh mantan gerakan. Hanya segelintir saja dan hal ini bahkan akan menguatkan Partai Aceh sendiri.

Menurut Zaini, simpatisan Partai Aceh berjumlah jutaan, bahkan suku-suku Jawa yang tinggal di Aceh sudah menyatakan bergabung dengan Partai Aceh. “Bagi kami NKRI adalah harga mati dan demi perdamaian yang abadi.”

Kubu Partai Aceh yakin menang besar dalam pilkada Aceh mendatang. “Mungkin 60 persen suara lebih lah,” kata Zaini.

Mereka mengandalkan program yang kurang lebih sama dengan rivalnya, program pengobatan gratis, pendidikan dan pembangunan sampai pelosok. Itulah yang dinilai Zaini belum mampu dikerjakan maksimal oleh Irwandi yang telah memimpin lima tahun. Pihak Partai Aceh juga berjanji akan mengimplementasikan butir-butir kesepakatan damai (MoU) Helsinki dan Undang Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Di pihak lain, Irwandi mengatakan soal sukses atau tidaknya memimpin Aceh selama, terpulang kepada penilaian masyarakat Aceh secara umum. Irwandi mengakui telah membawa masyarakat Aceh lebih makmur,salah satu buktinya adalah menurunkan angka kemiskinan di Aceh. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh melansir, pada tahun 2006 terdapat sebanyak 28,28 persen penduduk Aceh yang miskin. Angka itu menurun drastis pada 2010, menjadi 20,98 persen.

Irwandi yang juga mengandalkan kubu kombatan menilai dukungan mantan kombatan juga banyak ke pihaknya. “Secara persaudaraan (mantan) GAM satu, secara temporer pecah. Yang pecah Partai Aceh,” ujarnya kepada Tempo.

Dia mengklaim ada 14 mantan Panglima Wilayah GAM yang mendukungnya, minus Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Utara. Di arus bawah, Irwandi menilai sekitar 70 persen eks kombatan yang mengharapkannya memimpin lagi Aceh ke depan. Perkiraannya, saat ini ada sekitar 50.000 eks GAM di Aceh dari berbagai kalangan.

Berapa persen akan meraih suara? “Sisa dari orang lain dapat saja. Mudah-mudahan besar sisanya,” kata Irwandi diplomatis.

Fadhli Abdullah alias Petrus, salah seorang mantan kombatan mengakui mendukung Irwandi karena dinilai sosok itulah yang cocok memimpin Aceh ke depan dan sudah teruji. “Dia (Irwandi) berhasil dengan program kesehatan gratis dan beasiswa untuk anak miskin,” ujarnya.

Pengamat Politik Aceh, Teuku Kemal Fasya menilai dua kandidat tersebut adalah calon pemenang untuk memimpin Aceh ke depan. “Calon lainnya mungkin pasangan Muhammad Nazar – Nova Iriansyah bisa menjadi kuda hitam,” ujarnya kepada Tempo.

Menurutnya pasangan Zaini Abdullah – Muzakkir Manaf dan Irwandi Yusuf – Muhyan Yunan adalah pasangan yang punya kekuatan hampir sama dan memiliki genetika serupa. Mereka didukung oleh kombatan yang mulai pecah soal dukungan politik.

Konsidi beberapa daerah yang mempunyai pemilih terbanyak seperti Aceh Utara, Aceh Timur, Bireuen dan Aceh Besar, sangat menggambarkan perpecahan eks gerilyawan. “Belakangan saya lihat juga kombatan di Pidie yang sebelumnya saya nilai mendukung PA penuh. Tapi kemudian juga terbelah,” ujarnya.

Menurut Kemal, Irwandi adalah dilemma bagi Partai Aceh. Tantangan tersebut menjadi tentu berawal dari konflik internal terkait kebijakan KPA dan juga partai yang memecat sebagian panglima wilayah, yang memiliki arus politik sendiri. Dinamika belakangan membuat perpecahan semakin besar antara dua kubu.

Dia melihat eks kombatan lebih besar berada di kubu Zaini – Muzakkir dibandingkan di kubu Irwandi – Muhyan. Tapi kemudian yang perlu dicermati adalah pemilih tidak hanya eks kombatan, tapi juga masyarakat Aceh lainnya. “Kelompok pemilih bukan hanya itu, masih banyak warga miskin. Artinya yang menang adalah yang mampu menarik simpati kelompok masyarakat, bukan hanya sekadar merawat kombatan,” ujarnya.

Sebagian kombatan lain juga ada yang mendukung pasangan Muhammad Nazar – Nova Iriansyah serta Abi Lampisang – T Suriansyah. “Tapi jumlahnya tidak signifikan, hanya karena perkawanan saja. Ini dikarenakan Nazar sebagai sayap intelektual GAM dulunya dan Abi Lampisang juga dikenal dekat dengan GAM,” terang Kemal.

Pilkada Aceh akan digelar pada 9 April mendatang diramaikan oleh lima pasangan calon gubernur/wakil gubernur. Mereka adalah; Mereka adalah Abi Lampisang – Teuku Suriansyah (independen), Irwandi Yusuf – Muhyan Yunan (independen), Darni M. Daud – Ahmad Fauzi (independen), Muhammad Nazar – Nova Iriansyah (Demokrat, PPP, SIRA) dan Zaini Abdullah – Muzakkir Manaf (Partai Aceh). [KORAN TEMPO, Senin 27 Feb 2012]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here