Batas

0
15

By : Adi Warsidi

Tapal itu tak bergaris lurus seperti jembatan panjang yang berbatas pada pinggir, lalu jalan. Tapal itu sebuah abstrak yang tak bisa diraba, berliku-liku, berlekuk dan rumit. Kadang batas tak berbatas dan kadang batas juga tragedi, jurang mematikan.

Sekarang tinggal bagaimana ‘batas’ dibatasi pada pikiran yang bisa menumbuhkan sebuah jalan mulus. Jika itu bisa dilakukan, maka batas adalah sebuah perjuangan. Pada umumnya, perjuangan tak pernah mengenal batas, kendati pejuang telah berbatas mati.

Perbatasan hanya dua sisi, siang berbatas malam, baik berbatas buruk, madu berbatas racun dan putih berbatas hitam. Tapi bukan tak mungkin, sebuah batasan ada yang abu-abu, atau antara keduanya. Kadang berbaur, kalau begini berarti tak berbatas.

Suatu hari pernah kami bertanya tentang batas pada tuan rumah yang tak pernah mengenal kami. Apa yang kami kerjakan sudah benar? Siapa kami? Kenapa kami selalu menkhawatirkan batas kami sendiri? Kenapa kami berlekuk, rumit dan abu-abu? Kenapa kami tidak ini dan kenapa tidak itu?

Tuan rumah itu heran dan memberi jawaban. Siapa anda? Kami pun binggung dan balik memfatwa, kami pun berhak bertanya kepada kawan, siapa kami?

Batas juga bermakna pergi dan kembali. Teringat sajak Sultan Takdir Alisjahbana sekitar tahun 1930-an. Pengarang roman Grotta Azzura itu menulis ‘Telah kutinggalkan engkau,’ pada batas untuk teluk teduh tempat asalnya. Dalam sajak itu, ia putuskan untuk mening¬galkan alam tenang yang dilindungi gunung. Sultan memilih laut luas tanpa proteksi; ia bebas, sebab itu ia berani menghadapi mara bahaya dalam ketakpastian cuaca.

Mara bahaya dan kacaunya cuaca mungkin adalah tidak adanya batasan dalam pilihan Sultan, ketika dia sudah berani meninggalkan tempat asal sebagai batas. Tapi kadang tak berbatas yang dicari adalah awal langkah mencari batas. Dan bukankah perjuangan juga tak berbatas? Lalu kenapa perlu putih atau hitam? Siang dan malam dan seribu lainnya.

Entahlah, di akhir biarkan kami menulis, ‘boleh biarkan batas perjuangan tak berbatas, karena batasku adalah mati’. ***

Banda Aceh, 28 Juni 2008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here