Banda Aceh dengan Wisata Halal

0
68

Tak ada wisatawan yang ragu untuk menikmati kopi atau makan pada warung-warung di Banda Aceh atau Aceh umumnya. Mereka tahu daerah ini menjalankan syariat Islam, makanan semuanya halal. Daerah ini masih terus berbenah mengambangkan destinasi wisata halal, karena ini bukan hanya soal makanan.

Kisah Syarifuddin misalnya, kerap membawa kawannya dari Malaysia ke warung kopi Solong di Ulee Kareng maupun Solong Premiun di Beurawe. Mereka tak banyak bertanya soal minuman dan makanan halal, mereka menyukai tempatnya dan tahu Banda Aceh adalah kota dengan wisata halal.

Hal sama dikisahkan Bakri, pemilik warung makan Lem Bakri di Lamteh. Warungnya selalu ramai termasuk wisatawan dari luar. Bakri menjaga kebersihan tempat itu dengan baik. Ada mushala juga untuk salat para tamu. “Kami mengutamakan kebersihan dan nyaman kepada pelanggan.”

Photos: Dokumen pribadi

Tapi yang namanya wisata halal bukan hanya makanan, juga tempat. Kuliner halal dan destinasi halal tak perlu ragu di ibukota Aceh. “Hanya perlu pengembangan terkait fasilitas lengkap, kebersihan, hygienis dan kenyamanan,” kata Said Fauzan kepadaku bulan lalu. Dia adalah Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi pada Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh

Dia bercerita, konsep wisata halal yang dikembangkan Banda Aceh bukanlah pada sebuah tempat, tetapi menyeluruh dalam semua aspek. Ini untuk mendukung kampanye wisata halal yang program unggulan Aceh. Sebelumnya. Pada 2016 silam, provinsi Aceh mendapat penghargaan Wisata Halal Dunia untuk dua kategori, Worlds Best Halal Cultural Destination dan Worlds Best Airport for Halal Travellers (Bandara Sultan Iskandar Muda).

Kata Fauzan, semua tempat yang dikunjungi wisatawan di Banda Aceh harus mengusung konsep wisata halal seperti lokasi dengan aneka kuliner, lokasi dengan wisata religi, lokasi tsunami heritage, hotel, penginapan sampai gampon-gampong yang menarik dikunjungi. Peran pemerintah mendorong warga melalui pelatihan dan sosialisasi lainnya.

Ada sedikit kendala dalam urusan mengurus sertifikat halal bagi tempat-tempat wisata. Para pengelola menilai tak perlu label karena yang dijualnya halal secara agama, kendati secara manajemen hal ini penting untuk branding kepada negara luar. ini juga menjadi fokus pemerintah.

Sertifikasi secara aturan dikeluarkan oleh LPP POM Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, setelah melakukan pengecekan. Halal bukan saja pada makanan yang haram bagi seorang muslim memakanya, seperti daging babi. Tetapi juga harus higienis seperti air cuci piring yang harus mengalir, maupun mencuci beras yang jauh dari toilet. Juga kebersihan lingkungannya.

Memberi pemahaman tersebut kepada warga, pemerintah menggaet mahasiswa, siswa, duta wisata, blogger dan jurnalis untuk menebarkan informasi guna mendukung pengembangan wisata halal di kota ini. Selain itu juga menggelar event seperti festival halal food international, pertengahan 2017 lalu.

Secara keseluruhan sejak Aceh mendapat penghargaan internasional sebagai daerah wisata halal, kunjungan wisatawan terus meningkat. Data 2017 tercatat  sebanyak 2.9 juta orang wisatawan melancong ke Aceh, terutama Banda Aceh karena bandara terletak di kawasan tersebut. Jumlah itu terdiri dari 78 ribu wisatawan asing dan selebihnya wisatawan nusantara.

Sebagai perbandingan, pada 2016 lalu, wisatawan yang mengunjungi Aceh tercata 2.1 juta orang, 76 ribu di antaranya dari luar negeri. Paling banyak dari negeri jiran, Malaysia. Kampanye wisata halal telah secara luas, telah mendongkrak jumlah kunjungan ke kota ini. Mari terus mendukung. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here