Aceh dan Kutukan Pantun ½ Jahannam?

0
431

Kemarin, sambil ngopi dengan seorang pemerhati budaya, pantun itu kudengar lagi. Ini sungguh membuat ku terganggu, memaksa otak berpikir tentang bait-bait setengah Jahannam itu.

Begini bunyinya: Ureung Aceh careng meuprang, ureung Padang careng peugah haba, ureueng Batak jai duek di kanto, yang meu atoe, tetap orang Jawa.

[Orang Aceh pandai berperang, orang Padang pandai bicara, orang Batak banyak kerja di kantor, yang mengatur (memimpin) tetaplah orang Jawa]

Kusebut setengah Jahannam karena terdengar sangat rasis dan entah siapa perawinya. Tapi kuyakini telah lama didendangkan oleh para tetua, kendati tak ditulis. Bahkan tak kutemukan bunyinya dalam buku-buku lawas, perkiraanku pantun terucap pertama kali setelah Indonesia Merdeka.

Setengah Jahannam dan setengah lagi Firdaus, pantun ini di tengah-tengah, membuat batasan tak jelas, karena baitnya juga dapat berupa nasihat. Tentu bagi yang berakal, bahwa perang yang tak berguna.

Pemotongan senjata GAM, 21 Desember 2005 | Dok. Adi Warsidi

Sebagian pengingat dalam acara resmi pemerintahan, terakhir kali pantun kudengar diucapkan oleh pejabat di Aceh dalam sambutannya saat menyambut para mantan narapidana Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, 31 Agustus 2005 atau 16 hari setelah MoU Helsinki ditandatangani.

Mereka baru saja mendapat amnesti dan pulang kembali ke Aceh dari berbagai penjara di Pulau Jawa. Pejabat itu mengingatkan agar sama sama-menghapus label ‘Orang Aceh pandai berperang’ dan dapat membangun Aceh bersama mengisi perdamaian.

Pantun kutukankah itu? aku tak berani mengatakan ya, tak juga tidak. Karena ada rasa setengah percaya di sana, jika melihat lakon yang berlaku di Aceh sejak lama, mungkin sebagian orang menyebutnya takdir atau lebih masuk akan cobaan.

Pantun itu kurasa diilhami oleh sejarah perang di Aceh yang teramat panjang. Sejak masa kesultanan, Aceh sudah berperang melawan penjajah bahkan sesamanya untuk merebut kekuasaan.

Usai terlibat perang mengusir Portugis atas kuasa lada-lada, ada perang melawan Belanda, lalu Jepang. Aceh disebut tak pernah takluk, dan penilaian pandai ada benarnya. Selajutnya ada konflik masa Darul Islam dan terakhir konflik yang dipelopori Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sampai perdamaian 15 Agustus 2005 silam.

Pasca kontak tembak TNI-GAM, Juni 2005 | Dok. Adi Warsidi

Saking pandai dan sukanya berperang, ada label yang berlaku bahwa orang-orang Aceh akan berkonflik sesamanya jika tak ada lawan orang luar. Dan mereka akan bersatu kembali jika ada lawan bersama. Maaf, ini kata yang banyak kudengar dan jangan menghakimi ku karenanya.

Perang sesama kita pernah terjadi setelah Indonesia Merdeka, dikenal sebagai perang Cumbok yang dipicu kesalahpahaman pembagian kekuasaan antara Ulama dan para Ulee Balang. Perang itu berlangsung beberapa tahun kemudian, meninggalkan bekas sampai puluhan tahun kemudian.

Kini setelah perdamaian berusia 13 tahun. Demi para leluhur yang telah berperang melawan penjajah, aku tak berani menafsir jauh kutukan pantun itu, benar-benar khawatir dan takut pada setengah jahannamnya. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here